terangkita.com - Mahasiswa
Program Studi Teknik Informatika STMIK TIME Medan kembali menorehkan prestasi
membanggakan di kancah internasional. Tarq Hilmar Siregar berhasil menembus Top
300 dunia dalam ajang 10,000 AIdeas Competition yang diselenggarakan oleh Amazon
Web Services (AWS). Kompetisi global ini diikuti oleh ribuan inovator dari
berbagai negara, dan hanya karya-karya terbaik yang berhasil melaju ke tahap
penilaian lanjutan (judging round).
Ketua STMIK TIME, Edi Wijaya,
M.Kom., didampingi Wakil Ketua Bidang Akademik Hendri, M.Kom., serta Wakil
Ketua Bidang Kemahasiswaan Feriani Astuti Tarigan, M.Kom., M.M., menyampaikan
apresiasi atas capaian tersebut. Mereka menilai keberhasilan ini merupakan
bukti nyata kualitas mahasiswa STMIK TIME dalam berinovasi dan bersaing di
tingkat global, khususnya dalam bidang teknologi kecerdasan buatan.
Senada dengan hal tersebut,
Ketua Program Studi Teknik Informatika Robet, M.Kom., bersama Ketua Program
Studi Sistem Informasi Johanes Terang Kita Perangin Angin, S.Kom., M.TI.,
menyampaikan harapan agar Tarq Hilmar Siregar dapat melaju lebih jauh hingga
masuk ke jajaran Top 50 besar global. Mereka optimistis dengan kualitas inovasi
yang dikembangkan, peluang tersebut terbuka lebar.
Tarq Hilmar Siregar,
mahasiswa semester VIII Program Studi Teknik Informatika STMIK TIME,
mengungkapkan rasa syukur atas pencapaiannya. Ia menyampaikan bahwa
keberhasilan ini menjadi motivasi untuk terus mengembangkan inovasi yang tidak
hanya unggul secara teknologi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi
masyarakat, khususnya di sektor pertanian.
Dalam pengumuman resmi
kompetisi, Ben Fowler selaku Senior Product Manager AWS menyampaikan bahwa
peserta yang berhasil masuk ke Top 300 merupakan inovator dengan ide-ide luar
biasa yang siap melaju ke tahap penilaian berikutnya. Ia menekankan bahwa
kualitas solusi yang diajukan menunjukkan potensi besar dalam memanfaatkan
teknologi AI untuk menyelesaikan berbagai tantangan global.
Proyek yang dikembangkan oleh
Tarq bertajuk RiceGuard AI, menghadirkan solusi deteksi dini penyakit
tanaman padi berbasis kecerdasan buatan. Sistem ini memungkinkan petani untuk
mengidentifikasi penyakit hanya melalui foto tanaman, sehingga proses
penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Selain kemampuan deteksi
instan, RiceGuard AI juga dilengkapi dengan fitur rekomendasi penanganan
berbasis teknologi generatif dari Amazon Bedrock. Teknologi ini dirancang untuk
menerjemahkan informasi teknis menjadi panduan praktis yang mudah dipahami oleh
petani di lapangan.
Lebih lanjut, sistem ini
memiliki fitur geospatial heatmap yang berfungsi sebagai peringatan dini
terhadap penyebaran penyakit tanaman. Dengan pemantauan wilayah secara
real-time, komunitas petani dapat mengambil langkah pencegahan secara kolektif
guna menjaga stabilitas hasil panen dan memperkuat ketahanan pangan.
Dari sisi teknologi,
RiceGuard AI dibangun menggunakan arsitektur serverless yang memungkinkan
skalabilitas tinggi tanpa memerlukan pengelolaan server fisik. Infrastruktur
sistem memanfaatkan layanan AWS seperti Amplify dan API Gateway sebagai tulang
punggung distribusi aplikasi.
Pemrosesan klasifikasi AI dijalankan secara asinkron menggunakan AWS Lambda, sementara data spasial penyakit dikelola melalui DynamoDB. Arsitektur ini memberikan performa yang cepat, efisiensi biaya dalam batas AWS Free Tier, serta menjamin keamanan data melalui mekanisme unggah dan kontrol akses yang terproteksi. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa inovasi mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat dunia sekaligus menghadirkan solusi teknologi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
Viewers